Selasa, 19 Mei 2009

Kebutuhan Belajar Masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar terlebih dahulu akan ditanyakan kenapa manusia itu melakukan proses pembelajaran? Hal ini berkaitan dengan tujuan dari orang atau manusia itu dalam mengikuti proses pembelajaran. Adapun dengan kata lain tujuan disini adalah sebuah kebutuhan manusia yang secara lahiriah maupun batiniah itu harus tercapai.
Kebutuhan manusia memang tidak ada batasnya, akan tetapi tidak semua kebutuhan manusia itu selalu tercapai, hal ini terkait dengan kemampuan manusia itu sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Di atas telah dikemukakan bahwa manusia mengikuti pendidikan adalah karena manusia itu memiliki tujuan dalam hidupnya dan bentuk dari tujuan itu adalah kebutuhan yang merupakan tuntutan manusia untuk mempertahankan hidupnya, sedangkan dalam proses pembelajaran itu sendiri juga memiliki kebutuhan agar dalam proses pembelajaran berjalan engan baik dan sesuai dengan rencana.
Didalam penyusunan perencanaan sistem pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan masalah, karena perencanaan sistem pembelajaran adalah bahan pemecahan masalah belajar, sedangkan masalah belajar adala sisi balik dari kebutuhan belajar. Akan menjadi lebih baik kalau dalam memenuhi kebutuhan belajar itu menggunakan sistem yang terarah agar tujuan pembelajaran yang dilakukan dapat terlihat dengan jelas dan pelaksanaannyapun akan menjadi lebih teratur.
Melalui makalah ini, kami akan mencoba mengemukakan tentang kebutuhan belajar dengan lebih spesifiknya lagi, kami akan menganalisis kebutuhan dan masalah belajar.

Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan dapat ditemukan permasalah yang hal inimerupkan sebuah bahan untuk menjadi pambahasan makalah kami yakni :
“Bagaimana upaya pemecahan masalah dalam mengatasi kebutuhan belajar yang belum terpenuhi melalui sebuah analisi kebutuhan serta analisis masalah dalam belajar”

Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari penyusunan makalah ini yakni :
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan bentuk dari kebutuhan belajar dan masalah belajar dan pengertiannya dilihat dari perencanaan sistem pembelajaran;
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

BAB II
ANALISIS KEBUTUHAN DAN MASALAH
Pengertian Kebutuhan dan Masalah Belajar
Kebutuhan adalah kesenjangan (Gap/Discrepancy) antara apa/kondisi yang ada dan apa/kondisi yang seharusnya ada. Kebutuhan belajar (learning needs) atau kebutuhan pendidikan (education need) adalah kesenjangan yang dapat diukur antara hasil belajar atau kemampuan yang ada sekarang dan hasil belajar atau kemampuan yang diinginkan/dipersyararatkan. Menurut prof. Djuju Sudjana kebutuhan belajar dapat diartikan sebagai suatu jarak antara tingkat pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang dimiliki pada suatu saat dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang ingin diperoleh sesorang, kelompok, lembaga, dan/atau masyarakat yang hanya dapat dicapai melalui kegiatan belajar. Kaufman, menyebutkan bahwa masalah adalah selected gap. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan belajar merupakan sebuah gap antara keadaan yang sesungguhnya dengan keadaan yang diharapkan dan itu harus terpenuhi dengan jalan belajar.
Sebagai misal, seorang pemuda yang menyatakan keinginannya untuk belajar sosiologi dalam rangka memperluas pengetahuannya tentang kehidupan sosial masyarakat di Indonesia bahkan dunia. Dengan demikian, keinginan yang dirasakan dan dinyatakan, baik secara lisan maupun tulisan, yang harus dipenuhi melalui kegiatan belajar disebut kebutuhan belajar.
Kebutuhan belajar itu beragam hingga setiap orang cenderung memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Dalam satu kelompok yang meiliki sepuluh orang anggota mungkin akan terdapat lebih dari sepuluh macam kebutuhan belajar setiap anggotanya anggotanya. Kebutuhan yang dirasakan oleh seseorangpun mungkin akan berbeda apabila ruang dan waktu itupun berbeda. Kebutuhan belajar yang dirasakan oleh seseorang yang berada didaerah pedesaan mungkin akan berbeda dengan kebutuhan belajar yang dirasakan apabila orang tersebut tinggal dikota. Kebutuhan belajar yang dirasakan tahun lalu mungkin akan berbeda pula dengan kebutuhan belajar yang akan dirasakan pada tahun mendatang. Apabila suatu kebutuhan belajar telah terpenuhi, akan muncul kebutuhan belajar lainnya yang harus dipenuhi melalui kegiatan belajar.
Kebutuhan belajar perlu diidentifikasi melalui pendekatan perorangan. Identifikasi ini dilakukan dengan menggunakan instrumen yang cocok sehingga dapat mengungkap informasi yang dinyatakan oleh setiap individu yang merasakan kebutuhan belajar. Instrumen itu antara lain adalah wawancara, angket, dan kartu SKBM (Sumber dan Kebutuhan Belajar Masyarakat).
Kebutuhan belajar yang dirasakan sama oleh setiap individu dalam suatu kelompok disebut kebutuhan belajar kelompok. Kebutuhan belajar kelompok ini pada umumnya daat dipenuhi melalui kegiatan belajar bersama atau kegiatan belajar kelompok. Wadah kegiatan belajar bersama dalam suatu kelompo itu disebut kelompok belajar. Kelompok belajar bertujuan untuk terjadinya proses belajar yang didasarkan atas kebutuhan belajar yang telah diidentifikasi sebelumnya. Dengan kata lain bahwa hasil identifikasi kebutuhan bahan belajar itu dijadikan bahan masukan dalam penyusunan kurikulum atau program belajar. Kurikulum ini dapat meliputi antara lainpengetahuan keterampilan, dan/atau sikap yang akan dipelajari dalam kelompok belajar.
Kebutuhan belajar dapat disusun kedalam berbagai golongan. Beberapa pakar pendidikn dan peneliti kebutuhan belajar yang dikemukakan dibawah ini dibuat oleh Johnstone dan rivera (1965) dalam buku “Volunteers of Learning” yakni :
a. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan tugas pekerjaan;
b. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan kegemaran dan rekreasi;
c. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan keagamaan;
d. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan penguasaan bahasa dan pengetahuan umum;
e. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan kerumahtanggaan;
f. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan penampilan diri;
g. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan pengetahuan peristiwabaru;
h. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan usaha dibidang pertanian;
i. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan pelayanan jasa.
Penggolongan kebutuhan belajar sebagaimana dikemukakan diatas dapat diperluas sesuai dengan berkembangnya kebutuhan dan perubahan yang terjadi dimasyarakat.penggolongan tersebut dapat memberikan gambaran tentang betapa luasnya kebutuhan belajar yang dapat dijadikan bahan masukan dalam menentukan program belajar dalam pendidikan luar sekolah. Luasnya kebutuhan belajar dapat memberi arah pada pendidikan luar sekolah untuk mengembangkan program belajar yang bervriasi, memerlukan waktu berlanjut dan berkesinambungan.

Macam-Macam Kebutuhan
Klasifikasi kebutuhan banyakdipengaruhi oleh segi pandangannya, seperti ahli psikologi memandang bahwa kebutuhan terdiri dari primary needs dan secondary needs. Dalam bidang pendidikan kebutuhan lebih bersifat kebutuhan sosial (social needs)
Menurut Bradshaw (Briggs, 1977 : 22) membedakan adanya 5 macam kebutuhan, yaitu :
a. Kebutuhan normatif adalah kebutuhan yang ada setelah dibandingkan dengan norma tertentu kebutuhan normatif juga bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang timbul apabila seseorang atau suatu kelompok berada dalam keadaan dibawah suatu ukuran (standard) yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, seseorangdapat disebut menderita kekurangan gizi apabila ia senantiasamemakan makanan yang nilai gizinya dibawah ukuran yang telah ditetapkan oleh instansi yang bergerak dibidang kesehatan. Dalam bidang pendidikan, kebutuhan normatif muncul pula apabila penampilan seseorang siswa pada suatu lembaga pendidikan berada dibawah rata-rata penampilan siswa yang telah ditetapkan oleh lembaga tersebut. Walaupun demikian tidak mudah untuk mengetahui dengan pasti mengenai tingkat perbedaan keadaan seseorang atau kelompok dengan ukuran yang telah ditetapkan itu. Hal ini disebabkan karena suatu keadaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti oleh keadaan iklim, prestasi kerja, kondisi badan, keadaan keluarga, perbedaan ukuran yang digunakan, dan perbedaan lain yang dimiliki oleh setiap orang.
b. Kebutuhan terasa (feels needs)atau dapat pila disebut sebagai keinginan (want). Kebutuhan jenis ini biasanya disampaikan seseorang kalau kepadanya kita tanyakan apa yang diperlukan atau diinginkan yang dirasakan pada saat itu. Kebutuhan terasa dianggap sama dengan keinginan atau kehendak. Tipe kebutuhan ini dapat diidentifikasi dengan mudah melalui wawancara dengan seseorang atau sekelompok orang mengenai apa yang mereka inginkan. Kendatipun cara mengidentifikasi ini menunjukkan pendekatan demokratis, namun cara tersebut tidak lepas dari kelemahan kelemahannya antara lain adalah bahwa keinginan seseorang atau kelompok akan dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap kemungkina untuk mencapainya, persepsi masyarakat tentang keinginan itu, tingkat upaya dalam mencapai keinginan, dan daya dukung untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan tersebut.
c. Expressed Needs atau Demand yaitu kebutuhan yang ditampakkan oleh orang-orang yang membutuhkannya, seperti orang membutuhkan bahan bakar dengan mengekspresikan mereka mengantri ditempat penjualan bahan bakar. Kebutuhan yang dinyatakan dapat pula diidentifikasi melalui wawancara atau kuesioner dengan seseorang atau kelompok orang.
d. Kebutuhan komparatif (Comparated Needs) adalah kebutuhan yang muncul kalu kita membandingkan dua kondisi atau lebih yang berbeda.
e. Kebutuhan masa datang (Antisipated/Future Needs). Jenis ini merupakan proyeksi atau antisipasi kebutuhan yang akan terjadi dimasa mendatang. Sebagai misal apabila suatu badan perencana pembangunan kota merencanakan pembangunan jalan baruyang akan mulai dibangun sepuluh tahun yang akan datang maka pada dasarnya badan tersebut merancang untuk memnuhi kebutuhan masa yang akan datang. Kekurangan upaya dalam mempertimbangkan kebutuhan masa yang akan datang dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas pada saat tertentudi masa depan. Demikian pula dengan kemandekan atau kelambanan perkembangan suatu program pembangunan disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap perhatian yang mungkin timbul pada masa yang akan datang. Dalam penddikan luar sekolah, identifikasi kebutuhan yang diantisipasi ini akan membantu dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu memantau lingkungan dan memahami kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dimasa depan. Kebutuhan ini diperlukan pula oleh para perencana pendidikan dan pembangunan untuk menghindari “future shock” dalam perkembangan dan hasil pendidikan dimasa depan.
Kadangkala kita menghadapi banyak kebutuhan yang diharapkan oleh sesorang, sehingga pada akhirnya kita perlu mengadakan Needs Assesment Atau Discrepancy Analysis

Prosedur Pengukuran Kebutuhan Belajar
Pengukuran kebutuhan belajar sangat penting untuk dilakukan, karena hal ini akan berpengaruh pada beberapa hal, yakni :
a) pegukuran tersebut dapat memusatkan perhatian perencanaan program pada masalah-masalah yang menonjol. Dengan data hasil pengukuran dapat dijamin alokasi pemakaian waktu serta sumber-sumber personil. Hal ini mengacu pada program yang sistematis dan berfungsi secara menyeluruh serta merata, dengan menggunakan pengukuran data kebutuhan efektifitas waktu serta program dapat direncanakan dengan seksama dan dengan lebih terarah.
b) Needs Assesment dapat memusatkan perhatian satu kebutuhan dan bukan kebutuhan yang lain. Sebab needs assesment adalah sebuah pengidentifikasian kebutuhan dengan melihat kebutuhan masyarakat atau warga belajar itu sendiri agar apa yang diberikan dalam proses pembelajaran itu sesuai dengan kebutuhan warga belajar serta dapat lebih bermanfaat bagi warga belajar itu sendiri.
c) Dapat memberikan informasi penting bagi pengukuran perkembangan atau performance siswa berikutnya.
Pengukuran kebutuhan atau analisis kesenjangan ini memiliki 3 (tiga) karakteristik (koufman, 1972 :29), yaitu :
Data yang terkumpul harus menggambarkan keadaan calon siswa atau orang lainyang mempunyai kondisi yang sama.
Setiap pernyataan kebutuhan sifatnya tentative.
sebaiknya kesenjangan diidentifikasi dari sudut tingkah laku aktual, tidak dari segi proses pencapaian. Maksudnya, untuk mengidentifikasi kebutuhan dalam belajar itu dilihat dari kebutuhan yang terakhir atau yang paling penting.
Untuk mengadakan assesment needs (menelusuri kebutuhan) ini kita perlu melibatkan tiga usur berikut ini :
Calon siswa (calon warga belajar / calon peserta didik)
Orang tua, dan anggota masyarakat
Para pendidik, atau pelaksana proses pendidikan.

Model Pengukuran Kebutuhan
Koufman (1972) membedakan tiga jenis model pengukuran kebutuhan, yaitu :
1. Model Induktif (tipe I), dengan langkah-langkah :
· Mulai dari pengukuran tingkah laku siswa pada saat sekarang;
· Kemudian mengelaompokkan dalam kawasan program dari sudut tujuan (umum) yang diharapkan;
· Harapan-harapan tersebut dibandingkan dengan tujuan yang besar yang ada pada kurikulum, baru lahirlah kesenjangan;
· Untuk menyediakan program, maka disusun tujuan secara terperinci dalam program yang tepat, dilaksanakan, dievaluasi, dan diravisi.
2. Model deduktif (tipe D), dengan langkah-langkah :
· Dimulai dari tujuan umum berupa pernyataan hasil belajar yang diharapkan;
· Kembangkan ukuran / kriteria untuk mengukur tingkah laku tertentu;
· Kumpulkan data untuk mengetahui adanya kesenjangan;
· Atas dasar kesenjangan – kesenjangan tersebut disusun tujuan khusus secara detail;
· Program dikembangkan, dilaksanakan, dan dievaluasi.
3. Model Klasikal / Classical (Type C), dengan langkah-langkah :
Banyak tergantung pada guru yang akan menyampaikan bahan belajar, tidak didasarkan kepada kebutuhan belajar siswa;
Penyusunan tujuan umum;
Pengembangan program, dan pelaksanaan;
Penilaian dan revisi.
Klein (Burton, Merril), mengemukakan terdapat empat fase antara lain :
a. Pengidentifikasian sebanyak mungkin tujuan-tujuan yang mungkin tercapai;
b. Susun / urutkan tujuan – tujuan tersebut atas dasar penting atau tidaknya;
c. Identifikasi kesenjangan antara performance yang ada dan yang diharapkan;
d. Susun prioritas untuk melakukan kegiatan.

Hubungan Antara Pengukuran Kebutuhan Belajar Dengan Sistem Perencanaan Pembelajaran
Dalam pengukuran kebutuhan belajar itu dilakukan dengan 3 langkah yakni yang telah dijelaskan diatas :
e. pegukuran tersebut dapat memusatkan perhatian perencanaan program pada masalah-masalah yang menonjol. Dengan data hasil pengukuran dapat dijamin alokasi pemakaian waktu serta sumber-sumber personil
f. Needs Assesment dapat memusatkan perhatian satu kebutuhan dan bukan kebutuhan yang lain
g. Dapat memberikan informasi penting bagi pengukuran perkembangan atau performance siswa berikutnya.
Dari ketiga faktor diatas kit dapat mengetahui bahwa hal yang paling berpegaruh dalam pengukuran kebutuhan atau yang dijadikan sebagai pusat kebutuhan adalah needs assesment dan ini sangat penting untuk dijadikan sebagai bahan ukur untuk mengetahi kebutuhan belajar warga belajar / masyarakat. Dengan demikian, ada suatu keterkaitan yang saling mempengauhi antara needs assesment dengan sistem perencanaan pembelajaran. Karena dengan mengetahui apa yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam belajar, otomatis hal ini akan terkait dengan sebuah sistem perencanaan pembelajaran sebab sistem perencanaan pembelajaran ini adalah langkah awal untuk mencapai atau meraih apa yang dibutuhkan dalam belajar dengan kata lain sistem ini adalah sebuah pemecah masalah dalam belajar atau pemecah masalah dalam sebuah kebutuhan yang harus terpenuhi dalam pandangan pembelajaran.
BAB III
KESIMPULAN


Dari pembahasan yang telah dikemukakan, kami dapat menyimpulkan bahwa upaya pemecahan masalah dalam mengatasi kebutuhan belajar yang belum terpenuhi melalui sebuah analisis kebutuhan serta analisis masalah dalam belajar yaitu kita harus tahu indikator apa sebenarnya yang menjadi pengaruh. Adapun indikator ini yakni macam-macam kebutuhan, prosedur pengukuran kebutuhan belajar, model pengukuran kebutuhan dari tiga indikator inilah kita dapat menemukan sebuah pemecahan masalah baik itu dalam kebutuhan belajar atau masalah belajar yang nantinya akan melahirkan perencanaan sistem pembelajaran yang merupakan sebuah lankah awal untuk membentuk proses pembelajaran yang efektif dan sebagai rencana untuk mengetahui apa yang harus dilakukan setelah tahu akan kebutuhan terhadap belajar.
DAFTAR PUSTAKA


Sirodjuddin, Kosim. H. M. (2006). Perencanaan Pembelajaran (Hand Out). Pendidikan Luar Sekolah.

Sujana. D. Prof (2001) Pendidikan Luar Sekolah. Bandung : Falah Production




Created By : Yans